Selasa, 25 Desember 2012

sejarah perang trikora

Operasi Trikora atau Operasi Djajawidjaja (1962) ternyata masih menyimpan banyak kisah. Catatan kontak radio terakhir Komodor Laut Yos Sudarso yang selama ini disimpan Didimus Letsoin, 71 tahun, staf PHB Lanud Langgur, misalnya, boleh jadi akan menyingkap misteri tenggelamnya RI Matjan Tutul pengangkut Peleton Intai Tugas Istimewa TNI AD. Mari Langgur terbetik pula cerita tentang mess berpenjagaan ketat yang disiapkan khusus untuk penerbang AURI yang siap mati demi tugas. Mari dua fakta ini saja sudah terbayang, betapa dahsyatnya aksi militer yang bakal digelar.
Fakta-fakta heroik di seputar serangan untuk merebut
kembali Irian Barat tersebut kami urai dalam Edisi Koleksi Angkasa berjudul Operasi Udara Trikora. Buku ini harus Anda baca, karena dari sini Anda akan tahu betapa Indonesia pernah begitu berani melawan negara lain yang menginjak-injak kehormatan Bangsa. Sadar bahwa nasib Indonesia kerap dipermainkan di meja perundingan internasional, Bung Karno mendatangkan berbagai persenjataan berdaya tangkal tinggi dari Uni Soviet. Militer Indonesia kemudian menjadi yang terbesar di belahan Bumi selatan, dan dunia pun tahu seperti apa wajah negeri ini jika sedang marah.
Pasukan Sekali terbang Oneway Ticket
Begitu pun, sang panglima sadar akan segala risikonya. ” Oleh karena itu, saya akan memberikan waktu selama satu menit kepada mereka yang mungkin ingin mengundurkan diri,” tegas Mayjen Soeharto dihadapan pasukan pertama yang akan diterjunkan di Merauke dengan C-130 Hercules. Lewat buku ini pula Anda akan kami ajak “melihat” kehebatan strategi dan detail operasi serangan udara yang dipersiapkan para perwira AURI. Semua sangat mematikan, sampai-sampai AS yang baru saja mengalahkan Jepang dalam Perang Pasifik, terbelalak melihatnya. Belanda ternyata tak sehebat yang diperkirakan sebelumnya.

sumber: http://sejarahperang.com/2011/07/24/operasi-udara-trikora/#more-1729
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar